
lensafakta.id – China mulai mengembangkan konsep data center bawah laut dalam skala komersial. Salah satu proyek terbarunya berada di lepas pantai Shanghai dan dirancang untuk menampung ribuan server.
Alih-alih menggunakan sistem pendingin seperti data center pada umumnya, fasilitas ini memanfaatkan air laut untuk membantu membuang panas dari server.
Konsep tersebut menarik perhatian karena kebutuhan listrik dan pendinginan data center terus meningkat, terutama seiring berkembangnya komputasi kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: Viral di China! AI Profesor Ini Dipakai Anak Muda untuk Hadapi Tekanan Orangtua
Data Center China Berada 35 Meter di Bawah Laut
Data center bawah laut China berada di kawasan khusus Lingang, Shanghai, sekitar 9,7 kilometer dari garis pantai dan 35 meter di bawah permukaan laut.
Proyek ini dikembangkan oleh HiCloud Technology atau Hailanyun bersama sejumlah perusahaan dan lembaga terkait di China.
Kapasitas keseluruhan proyeknya mencapai 24 megawatt dan pembangunannya dilakukan secara bertahap.
Salah satu bagian yang sudah beroperasi digunakan untuk menangani kebutuhan komputasi seperti pemrosesan AI, layanan 5G, serta pengolahan data dalam skala besar.
Kenapa Server Ditaruh di Dasar Laut?
Alasan utamanya adalah pendinginan.
Server dan GPU menghasilkan panas ketika bekerja. Pada data center konvensional, panas tersebut harus dibuang menggunakan sistem pendingin yang membutuhkan energi tambahan.
Sementara itu, air laut di sekitar fasilitas bawah laut dapat digunakan sebagai media untuk menyerap dan membuang panas.
Dengan memanfaatkan kondisi laut tersebut, kebutuhan energi untuk sistem pendinginan bisa ditekan.
Pengembang mengklaim data center bawah laut ini memiliki Power Usage Effectiveness (PUE) di bawah 1,15. Sebagai gambaran, PUE yang lebih rendah menunjukkan penggunaan energi yang lebih efisien karena semakin sedikit energi tambahan yang diperlukan di luar kebutuhan perangkat komputasi.
Hailanyun dan China Academy of Information and Communications Technology (CAICT) juga mengklaim konsumsi listrik fasilitas ini setidaknya 30 persen lebih rendah dibandingkan data center di darat.
Dipadukan dengan Energi Angin Lepas Pantai
Proyek Shanghai tidak hanya memanfaatkan air laut untuk pendinginan.
Fasilitas ini juga terhubung dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di sekitarnya. Pemerintah Shanghai menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari pengembangan data center yang memanfaatkan energi terbarukan.
Dengan kombinasi tersebut, China mencoba mengurangi kebutuhan energi sekaligus mengatasi persoalan panas yang dihasilkan perangkat komputasi.
Hal ini menjadi semakin relevan karena pusat data untuk AI membutuhkan banyak GPU berperforma tinggi yang menghasilkan panas dalam jumlah besar.
China Sudah Menguji Data Center Bawah Laut Sejak 2020
Proyek Shanghai bukan eksperimen pertama China.
China sebelumnya melakukan uji coba data center bawah laut di Sungai Mutiara pada 2020. Pengembangan kemudian berlanjut melalui proyek percontohan di Hainan pada 2022.
Proyek di Shanghai mulai dibangun pada 2025 dengan nilai investasi yang dilaporkan mencapai lebih dari 220 juta dollar AS.
Fase awalnya memiliki kapasitas yang jauh lebih kecil dibandingkan data center darat berskala besar. Namun, China mengembangkan teknologi tersebut secara bertahap dari tahap eksperimen menuju penggunaan komersial.
Beban kerja yang ditangani mencakup komputasi AI, layanan 5G, dan pemrosesan data dalam jumlah besar.
Microsoft Pernah Mencoba Konsep Serupa
Konsep data center bawah laut sebenarnya bukan hal baru.
Microsoft pernah menguji teknologi serupa melalui Project Natick. Pada 2018, Microsoft menempatkan kapsul berisi server di dasar laut dekat Kepulauan Orkney, Skotlandia.
Kapsul tersebut berada sekitar 36 meter di bawah permukaan laut dan berisi 855 server. Setelah beroperasi selama lebih dari dua tahun, kapsul ditarik kembali pada 2020.
Hasil eksperimen Microsoft cukup menarik. Hanya enam dari 855 server yang mengalami kerusakan selama berada di bawah laut.
Menurut Microsoft, lingkungan dalam kapsul yang tertutup dan diisi nitrogen turut membantu mengurangi faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan perangkat.
Eksperimen tersebut juga menunjukkan bahwa suhu laut yang relatif stabil dapat memberikan keuntungan untuk pengelolaan panas.
Baca juga: China Hapus 12.000 Jurusan Kuliah, AI dan Robotika Jadi Pengganti
Microsoft Tidak Melanjutkan ke Data Center Komersial
Meski eksperimen Project Natick memberikan sejumlah hasil positif, Microsoft akhirnya tidak melanjutkan konsep tersebut menjadi data center bawah laut komersial.
Pada 2024, Microsoft menyatakan bahwa mereka tidak sedang membangun data center bawah laut.
Namun, perusahaan mengatakan hasil penelitian Project Natick tetap berguna untuk mempelajari keandalan dan keberlanjutan data center, termasuk teknologi pendinginan lainnya.
Salah satu tantangan terbesar teknologi ini adalah pemeliharaan.
Server yang sudah tersegel di dasar laut tidak bisa diperiksa atau diperbaiki semudah server di data center biasa. Ketika terjadi kerusakan atau komponen perlu diganti, perangkat harus mendapatkan akses khusus atau bahkan diangkat dari laut.
Ada Risiko terhadap Lingkungan Laut
Penggunaan air laut sebagai sistem pendingin juga bukan tanpa risiko.
Panas yang dihasilkan server pada akhirnya harus dilepaskan ke lingkungan sekitar. Jika panas terkonsentrasi pada area tertentu, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi suhu air dan ekosistem laut di sekitarnya.
Karena itu, dampak terhadap lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan data center bawah laut.
Selain persoalan lingkungan, masih ada tantangan lain seperti biaya pembangunan, pemeliharaan, keamanan, dan akses terhadap perangkat.
China Mencoba Bawa Data Center Bawah Laut ke Skala Komersial
Data center bawah laut menawarkan solusi yang cukup menarik untuk dua persoalan sekaligus: kebutuhan pendinginan dan konsumsi energi.
China kini mencoba membawa konsep tersebut dari tahap eksperimen menuju penggunaan komersial melalui proyek di Shanghai.
Sementara itu, pengalaman Microsoft lewat Project Natick menunjukkan bahwa teknologi ini memang memiliki potensi, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam hal pengoperasian dan pemeliharaan.
Dengan kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat, data center bawah laut bisa menjadi salah satu konsep yang kembali banyak diuji. Namun, sejauh mana teknologi ini dapat digunakan secara luas masih harus dilihat dari sisi efisiensi, biaya, keandalan, dan dampaknya terhadap lingkungan.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)
