Shakur Stevenson menilai pertarungan melawan Ryan Garcia merupakan laga terbesar yang dapat diwujudkan Garcia, dibandingkan duel melawan Devin Haney atau Teofimo Lopez.
Tiga nama tersebut berada di sekitar Garcia setelah petinju berusia 26 tahun itu menghentikan Conor Benn pada ronde kedua di T-Mobile Arena, Las Vegas, pada 12 September.
Garcia (26-2, 21 KO) menjatuhkan dan menghentikan Benn (25-2, 14 KO) dalam waktu kurang dari 4,5 menit untuk mempertahankan gelar WBC kelas welter dalam pertahanan pertamanya.
Setelah pertarungan, perhatian langsung beralih kepada calon lawan Garcia berikutnya.
Garcia lebih dahulu menantang juara WBA kelas welter, Teofimo Lopez, yang sempat berusaha masuk ring untuk berhadapan langsung dengan Garcia, tetapi tertahan petugas keamanan.
Juara WBO kelas welter Devin Haney juga hadir di sisi ring. Garcia kemudian melontarkan tantangan bernada keras kepada mantan lawannya tersebut, sekaligus kembali membuka pembicaraan mengenai pertandingan ulang dua tahun setelah pertemuan pertama mereka.
Di tengah persaingan tersebut, Shakur Stevenson turut berada di arena sebagai analis siaran Zuffa Boxing. Juara The Ring dan WBO kelas welter junior itu menyatakan dirinya sebagai calon lawan terbesar Garcia.
“Pertarungan terbesar adalah Ryan melawan saya. Itu akan terjadi suatu hari nanti,” kata Stevenson.
“Saya tahu kami berdua adalah dua petinju terbaik. Kami berada di level teratas dan saya ingin pertarungan itu terjadi ketika waktunya tepat. Ini akan menjadi pertarungan luar biasa. Saya tahu permainan Ryan Garcia. Dia akan datang dan memberikan yang terbaik, tetapi saya berada di level yang berbeda,” ujarnya.
Stevenson dan Garcia sempat terlibat perselisihan verbal setelah Garcia mengalahkan Mario Barrios pada Februari.
Salah satu persoalan yang muncul saat itu adalah kesepakatan mengenai batas berat 144 pon jika keduanya bertemu.
Menurut Stevenson, waktu akan menjadi faktor penting karena keduanya masih berusia di bawah 30 tahun dan sedang membangun popularitas masing-masing.
Ia menilai pertarungan idealnya terjadi ketika keduanya masih berada dalam masa puncak karier.
Shakur Stevenson juga mengakui Garcia kini semakin layak disebut sebagai salah satu wajah utama tinju setelah penampilan melawan Benn.
“Menurut saya, itu semakin realistis. Dia tampil sangat bagus. Dia terlihat seperti salah satu wajah tinju. Sulit menentukan satu nama sebagai wajah tinju, tetapi di antara petinju papan atas, dia adalah salah satu dari empat raja dan jelas merupakan nama besar di dunia tinju,” kata Stevenson.
Sebelum laga Garcia-Benn, Stevenson memprediksi Garcia menang KO pada ronde kelima melalui pukulan hook kiri.
Namun, Garcia justru menjatuhkan Benn dengan pukulan kanan keras sebelum mengakhiri pertarungan lewat rentetan pukulan.
“Garcia keluar dengan adrenalin tinggi sejak awal. Dia bergerak sebelum pertarungan dimulai, mengenai Conor dengan hook kiri yang bagus dan mencoba membuat Conor masuk ke arah pukulannya. Dia terus mendaratkan pukulan keras sebelum knockdown terjadi,” ujar Stevenson.
Artikel Tag: devin haney, ryan garcia, shakur stevenson
Published by Lensafakta.id at https://lensafakta.id/tinju/shakur-stevenson-nilai-dirinya-jadi-lawan-terbesar-bagi-ryan-garcia
