Ricardo Malajika Terinspirasi Kejayaan Rugby Afrika Selatan di Tokyo

Lensafakta.id –

Petinju Afrika Selatan Ricardo Malajika merebut gelar juara dunia kelas bantam super World Boxing Council (WBC) setelah mengalahkan petinju Jepang Tomoya Tsuboi melalui keputusan angka terbelah dalam pertarungan 12 ronde pada 27 September di Tokyo.

Kemenangan tersebut terinspirasi oleh prestasi para atlet negaranya, termasuk tim rugby yang menjuarai dua Piala Dunia terakhir.

Malajika, yang menempati peringkat keempat kelas bantam super versi The Ring, mengaku datang ke Jepang dengan keyakinan bahwa dirinya mampu menang.

Momen tersebut juga terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan 40 tahun keberhasilan manajernya, Brian Mitchell, merebut gelar juara dunia.

Mitchell merupakan mantan juara dunia kelas ringan super versi The Ring, International Boxing Federation (IBF), dan World Boxing Association (WBA), sekaligus anggota Hall of Fame tinju.

“Ketika datang jauh-jauh ke Jepang bersama tim, hanya ada satu hal dalam pikiran saya. Jika manajer saya bisa melakukannya, jika para pemain rugby Afrika Selatan bisa menjuarai dua Piala Dunia terakhir, saya juga bisa,” kata Ricardo Malajika kepada The Ring.

Ia mengaku selalu yakin akan menang, meski tidak mengetahui secara pasti bagaimana pertarungan itu akan berjalan. Keyakinan tersebut, ditambah dukungan timnya, membantunya membalikkan keadaan pada empat ronde terakhir.

Malajika memiliki rekor 18 kemenangan dan dua kekalahan, termasuk 12 kemenangan knockout (KO).

Ia mengakui sengaja memulai pertarungan dengan tempo lebih lambat untuk mengukur kekuatan Tsuboi serta melihat bagaimana lawannya menghadapi petinju yang lebih tinggi.

“Saya ingin merasakan kekuatannya dan melihat bagaimana dia menghadapi petinju yang lebih tinggi. Saya melihat dia tidak punya rencana lain selain terus maju ke arah saya. Setelah itu, saya bisa mulai menjalankan strategi dan gerakan yang sudah kami latih,” ujarnya.

Pada akhir ronde keempat, skor Malajika imbang pada satu kartu juri, tetapi tertinggal 37-39 pada dua kartu lainnya.

Situasi serupa terjadi setelah delapan ronde, ketika satu juri menilai pertarungan imbang, sementara dua juri lain memberi keunggulan 77-75 kepada Tsuboi.

Malajika membutuhkan penyelesaian kuat pada empat ronde terakhir. Mitchell kemudian memberi tahu petinjunya bahwa ia harus memenangi seluruh ronde tersisa.

Menurut sang manajer, mereka menyadari Malajika tertinggal setelah ronde kedelapan dan membutuhkan knockout atau penampilan dominan pada empat ronde penutup.

Malajika akhirnya menyapu bersih empat ronde terakhir pada dua kartu juri dan memastikan kemenangan melalui keputusan angka terbelah.

Ketika namanya diumumkan sebagai pemenang, ia mengaku diliputi kegembiraan setelah bertahun-tahun berjuang mengejar gelar dunia.

Sepulang ke Afrika Selatan, ia menerima banyak ucapan selamat dari keluarga dan teman-temannya.

Ia juga menelepon istrinya, yang tidak ditemuinya selama 12 hari. Sang istri menangis bahagia karena mengetahui betapa lama Ricardo Malajika bekerja keras untuk mencapai impiannya.

Kini, setelah menjadi juara dunia, ia memiliki kesempatan mempertimbangkan tantangan berikutnya di divisi kelas bantam super.

Published by Lensafakta.id at https://lensafakta.id/tinju/ricardo-malajika-terinspirasi-kejayaan-rugby-afrika-selatan-di-tokyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *